Dampak negatif gadget terhadap kesehatan
Teknologi diciptakan
untuk mempermudah setiap kegiatan manusia. Gadget adalah salah satu contoh
teknologi popular saat ini. Gadget adalah perangkat elektronik kecil yang
memiliki fungsi khusus.
Berbagai macam gadget dapat
ditemui pada zaman sekarang ini salah satu contohnya adalah
Smartphone. Smartphone bisa disebut
dengan telepon pintar adalah perkembangan dari telepon
genggam sebelumnya yang hanya memiliki
beberapa fungsi saja
seperti SMS atau telepon.
Salah
satu perubahan yang terlihat di
lingkungan masyarakat modern ini adalah penggunaan gadget yang mengakibatkan
terjadinya pergeseran perilaku. Pada saat gadget belum menjadi tren seperti
sekarang ini, masih banyak ditemui anak-anak yang bermain bersama
teman-temannya dengan dimana kerjasama dan keakraban masih terlihat jelas
ketika anak-anak bermain dengan temannya. Saat ini, permainan yang dimainkan
sudah beralih dengan games yang ada pada gadget.
Gadget memang ada positifnya bagi anak, menjadi
media pembelajaran yang menarik, belajar bahasa Inggris lebih mudah,
meningkatkan logika lewat game interaktif yang edukatif. Mereka bisa belajar aneka
pelajaran, mencari journal, pelajaran, ilmu pengetahuan, mengetahui ada PR
(Pekerjaan Rumah), mengirim tugas, jadwal kuliah, semua bisa lewat gadget.
Namun dibalik itu semua tentu ada dampak negatifnya bagi anak. Dampak negatif
tersebut harus dicegah. Agar anak sebagai generasi bangsa tidak dirusak oleh
produk teknologi.
Berikut beberapa
dampak negatif gadget bagi kesehatan:
1.
Kecanduan
Sebagai
kelekatan yang kompleks, progresif, berbahaya, dan sering juga melumpuhkan,
seperti zat psikoaktif (alkohol, heroin, zat adiktif lainnya) atau perilaku
(seks, judi, kerja) yang dengannya individu secara kompulsif mencari perubahan perasaan. Kecanduan juga akan
terjadi pada pengguna gadget.
·
Pikiran pecandu internet (gadget)
terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke
arah lain.
·
Adanya kecendrungan penggunaan waktu
berinternet (gadget) yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang
sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
·
Kejadian yang bersangkutan secara
berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet (gadget)
·
Adanya perasaan tidak nyaman, murung,
atau cepat tersinggung/marah, ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan
penggunaan internet (gadget)
2.
Agresif
Masalah
kemampuan emosi, yang akan turut memicu perilaku kekerasan. Maraknya perilaku
kekerasan dan merusak (vandalisme) trennya meningkat, yang hampir disemua
daerah bisa kita temukan kasusnya. Salah satu pemicunya adalah kemajuan
teknologi, seperti penggunaan gadget untuk konten kekerasan, maraknya media
sosial dan akibat pemakaiannya tanpa pengawasan atau pendampingan. Bahwa
tayangan sadisme maupun kejahatan berpengaruh buruk terhadap pribadi anak.
Kondisi
lingkungan dapat mempengaruhi prilaku . Tanpa sadar, sedikit demi sedikit
perilaku berubah, mulai dari tantrum (suka berteriak-teriak), malas bergaul,
kekerasan ringan hingga menjadi kebiasaan akibat konten kekerasan yang mereka
saksikan. Jika terus berlangsung dalam jangka panjang ini bisa menjadi karakter
buruk. Jika dalam hal fisik-motorik muncul perilaku pasif akibat pemakaian
gadget, sebaliknya perilaku agresif yang dipicu emosi sosial justru menunjukkan
gejala agresif bahkan kekerasan.
3.
Obesitas
Semakin
panjang durasi interaksi manusia dengan perangkat elektronik, maka semakin
parah gangguan yang dialaminya. Padahal, diketahui bahwa obesitas meningkatkan
resiko stroke dan penyakit jantung sehingga menurunkan angka harapan hidup.
Beberapa penelitian menunjukkan, terlalu sering berinteraksi dengan perangkat
elektronik memicu otak melepaskan dopamin. Zat ini dilepaskan ketika Anda
melihat sesuatu yang menarik dan penghargaan. Anak akan cenderung pasif atau
malas, malas bergerak, malas bermain, malas berolahraga, malas keluar rumah
(bermain di luar) dan bentuk-bentuk pasif lainnya.
Hal
ini akan menjadikan anak pemalas dan berpotensi obesitas. Perilaku semacam ini
juga menggantikan aktivitas penting lainnya, terutama aktivitas bergerak yang
penting untuk kesehatan, maupun aktivitas sosial.
4.
Merusak mata
Penggunaan
gadget secara berlebihan dapat memperberat kerja otot mata dalam mengatur
fokus, dan menimbulkan ketegangan mata. Hal ini dapat mempercepat timbulnya
kelainan miopi (mata minus) pada anak-anak. Ada baiknya sering memeriksakan
kesehatan mata anak.
5.
Tulang Belakang
Kekhawatiran
baru munculnya gejala sakit punggung dan leher pada usia yang semakin muda yang
meluas. Sakit punggung dan leher merupakan dampak negatif peningkatan
penggunaan gadget dan perubahan gaya hidup. Maka setiap penggunaan 2 jam
gadget, harus diimbangi dengan 30 menit olahraga. Tubuh perlu bergerak, walau
hanya dengan jalan kaki atau bersepeda.
6.
Kerusakan Otak
Jika
pemakaian gadget adalah untuk pornografi, maka pengaruh negatif terhadap
kemampuan otak akan sangat kuat yang diberi istilah “merusak otak”. Pornografi
sesungguhnya merupakan penyakit, karena mengubah struktur dan fungsi otak, atau
dengan kata lain “merusak otak‟. Terjadi perubahan
fisiologis otak, ketika seseorang memasukkan gambar-gambar pornografi lewat
mata ke otaknya. Kerusakan yang dihasilkan sangat dahsyat. Bila kecanduan
narkoba mampu merusak tiga bagian otak, maka penggunaan materi pornografi yang
kecanduan mampu merusak lima bagian otak.
7.
Insomnia
Setiap
satu orang minimal mempunyai lebih dari
dua aplikasi media sosial di berbagai
gadget yang dimiliki, mereka mengaku dapat menghabiskan waktu berjam-jam dan
seringkali menggunakan fasilitas media sosial hingga larut malam. Kebiasaan
menggunakan media sosial dapat memicu berbagai masalah, salah satunya masalah
pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur yang memiliki berbagai dampak antara
lain keterlambatan untuk bangun pagi.
8.
Menghabat perkembangan Motorik halus
Psikolog
Orangtua
sebaiknya tidak membiarkan anak bermain gadget sebelum usia dua tahun, karena
bisa menghambat stimulus fisik atau motorik. Pemakaian gadget yang cukup dengan
sentuhan juga bisa membuat motorik halus tidak bekerja dengan baik. Tidak bisa
mencengkram, menggenggam dan tidak bisa memegang alat-alat tulis dengan baik,
akhirnya mewarnai, menulis tidak menarik, bahkan anak menjadi malas menulis.
Gadget bukan lagi merupakan produk yang langka dan mahal. Hadirnya gadget
dengan harga yang relatif murah memungkin semua orang untuk memilikinya. Hampir
semua aplikasi dalam gadget menggunakan akses internet sehingga memudahkan kita
melakukan banyak hal. Seperti berkomunikasi, mencari informasi, melakukan
transaksi, dan hiburan. Meskipun gadget hadir dengan banyak kemudahan di
dalamnya, namun kewaspadaan akan bahaya gadget harus tetap kita lakukan.
Tindakan prepentif yang telah
dikemukakan dalam pembahasan semoga dapat meminimalisir pengaruh negatif gadget.
DAFTAR
PUSTAKA
Febrino,
M, A. 2017. Tindakan Preventif Pengaruh Negatif Gadget Terhadap Anak. Noura, Vol. 1 No. 1, Juni 2017
Trifiana,
R. 2015. Pengaruh kematangan emosi terhadap perilaku prososial remaja pengguna
gadget di smp n 2 yogyakarta. E-Journal
Bimbingan dan Konseling Edisi 10 Tahun ke-4 2015
Purwanto,
E., Atina, V., Desylawati, E, S. 2017. Sistem
Pakar Deteksi Dini Gangguan Mata dan Syaraf Akibat Penggunaan Smartphone. Jurnal informatika upgris Vol. 3, No. 2,
(2017)
Syamsoedin,
W, K, P., Bidjuni, H., Wowiling, F. 2015. Hubungan durasi penggunaan media
sosial dengan kejadian insomnia pada remaja di sma negeri 9 manado. E-journal keperawatan (e-Kp) Volume 3. Nomor
1. Februari 2015
Mamatha,
S, L., Hanakeri, P, A., Aminabhavi, V, A. 2016. Impact of gadgets on emotional
maturity, reasoning ability of college students. International Journal of Applied Research 2016; 2(3): 749-755
Nath,
A., Mukherjee, S. 2015. Impact of Mobile Phone/Smartphone: A
pilot study on positive and negative effects. International Journal of Advance
Research in Computer Scienceand Management Studies. Volume 3, Issue 5, May 2015 pg. 294-302