Minggu, 16 Januari 2022

Pengendalian Penyakit Malaria

TUGAS SIK KELOMPOK 12


ALMA DWIYANTI (C1AA18012)

M. RIVALDI FADIL NURHAKIM (C1AA18064)

NOVIA GIRLVERA MUKTI (C1AA18082)

NURHAYATI (C1AA18084)




PENDAHULUAN

 

Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Kasus malaria banyak ditemukan di negara-negara tropis dan sub tropis, termasuk Indonesia. Terdapat empat jenis Plasmodium di Indonesia yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale (Soedarto, 2011) dalam (IRAWAN, 2015)

Menurut data WHO (2010) kasus malaria di dunia sebanyak 219 juta kasus dan 665.000 kematian. Di Indonesia sendiri kasus malaria mengalami penurunan tiap tahunnya dari 417.817 kasus pada tahun 2012 menjadi 343.527 kasus pada tahun 2013 (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2014). Sebagian besar kasus berada di Indonesia bagian Timur seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku. Insiden Malaria di Indonesia tahun 2013 adalah  1,9 persen menurun dibanding tahun 2007 (2,9%). Prevalensi pada tahun 2013 sebesar 6,0 persen. Lima provinsi dengan insiden dan prevalensi tertinggi adalah Papua (9,8% dan 28,6%), Nusa Tenggara Timur (6,8% dan 23,3%), Papua Barat (6,7% dan 19,4%), Sulawesi Tengah (5,1% dan 12,5%), dan Maluku (3,8% dan 10,7%). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kejadian malaria pada anak <15 tahun (5,9%) relatif lebih rendah jika dibanding orang dewasa  sebesar  6,6%  (35-44).    Kasus  lebih  banyak  ditemukan  pada laki-laki (6,2%) dibanding perempuan (5,8%). Prevalensi berdasarkan pekerjaan, orang dengan pekerjaan sebagai petani, nelayan, dan buruh beresiko tinggi terhadap penularan malaria (7,8%).

Pengobatan malaria harus dilakukan secara efektif dari segi pemberian jenis obat harus benar dan waktu minum yang tepat sesuai dengan program pengendalian malaria. ACT (Artemisin Combination Therapy) merupakan obat yang paling efektif dalam pengobatan malaria jika di berikan pada 24 jam pertama pasien panas dan dikonsumsi selama 3 hari. Presentasi pengobatan efektif di Indonesia adalah 45,5% yang sebagian besar berada di Indonesia bagian Barat. Penggunaan ACT yang tidak adekuat di Indonesia bagian Timur menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka kejadian malaria (BALITBANGKES, 2013). Dalam (IRAWAN, 2015)

 

Data Badan Pusat Statistik (2012) Provinsi Nusa Tengara Timur mendapatkan kejadian malaria positif sebesar 112.903 kasus yang terjadi di 21 kabupaten dan 1 kota. Terdapat 4 Kabupaten yang memiliki angka kejadian tertinggi diantaranya adalah Alor (11.370 kasus), Belu (11.646 kasus), Sikka (11,272 kasus) dan Lembata (22.083 kasus). Kasus malaria di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2012 sebesar 6.266 kasus dari jumlah penduduk sebesar 238.240 jiwa.(IRAWAN, 2015)

 

 

Pengendalian Penyakit Malaria

Menurut World Health Organization (2020) Malaria masih menjadi masalah kesehatan, diperkirakan dua pertiga kematian terjadi pada anakanak di bawah usia lima tahun. Pada tahun 2019 data yang dikumpulkan sebanyak 229 juta kasus malaria di seluruh dunia dengan perkiraan jumlah kematian akibat malaria mencapai 409.000 jiwa.

Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan Plasmodium yang terdiri dari banyak spesies, namun yang pada umumnya menyebabkan malaria adalah Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Penyakit malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles yang di dalam tubuhnya mengandung Plasmodium. Penyebaran dan endemisitas Malaria sangat dipengaruhi oleh keberadaan tempat perindukan nyamuk Anopheles sebagai vektor penular. (Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019)

Saat ini program malaria dihadapkan pada tantangan perubahan epidemiologi. Peningkatan proporsi malaria yang diimpor dan kelompok berisiko tinggi tidak lagi anak-anak dan ibu hamil tetapi lebih terkait dengan risiko faktor demografis dan pekerjaan khusus dalam lingkup lokal. (Herdiana,dkk 2016)

Malaria umumnya ditemukan di tempat-tempat terpencil atau sulit dijangkau tepatnya di negara dengan ekonomi rendah dan berkembang. Malaria menjadi salah satu indikator Agenda 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengeleminasi epidemi malaria pada tahun 2030. (Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016.)

Indonesia juga termasuk daerah berkembang dengan iklim tropis dan sub tropis yaitu sebagai habitat yang disukai nyamuk Anopheles sp. vektor penyebab penyakit malaria. Penyakit ini dapat menginfeksi semua kelompok umur. Meningkatnya angka kejadian malaria dipengaruhi oleh faktor perubahan iklim terkait lingkungan fisik kimiawi, biologis dan social serta perilaku masyarakat. (Sucipto, 2015)

Permasalahan malaria yang terus berkembang di Indonesia terkait dengan masih lemahnya upaya penurunan angka kejadian malaria seperti keberadan breeding place (tempat berkembang biak) nyamuk anopheles yang menyebar dan lokasi yang sulit untuk di jangkau, kondisi lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan (ventilasi, atap plafon, dinding rumah yang belum memadai), perilaku masyarakat melakukan aktivitas keluar rumah pada malam hari dan menjelang subuh (menyadap karet). ( Darmawangsyah,dkk 2019)

 

Tabel

Angka Kesakitan Malaria (Annual Paracite Incidence/Api)

Per 1.000 Penduduk Tahun 2010-2019


No

Tahun

API

1.       

2010

1,96

2.       

2011

1,75

3.       

2012

1,69

4.       

2013

1,38

5.       

2014

0,99

6.       

2015

0,85

7.       

2016

0,88

8.       

2017

0,99

9.       

2018

0,84

10.   

2019

0,93

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020

Grafik

Angka Kesakitan Malaria (Annual Paracite Incidence/Api)

Per 1.000 Penduduk Tahun 2010-2019









Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa API malaria pada tahun 2010 sebesar 1,96 per 1.000 penduduk menurun hingga angka terendah pada tahun 2018 sebesar 0,84 per 1.000 penduduk. Capaian eliminasi tingkat kabupaten atau kota pada tahun 2019 adalah sebanyak 300 kabupaten atau kota sedangkan untuk eliminasi tingkat provinsi belum ada yang mencapai, meskipun terdapat 3 provinsi yang seluruh kabupaten atau kotanya telah mencapai eliminasi.

 


Daftar Pustaka

Alim, A., Adam, A., & Dimi, B. (2020). Prevalensi Malaria Berdasarkan Karakteristik Sosio Demografi. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 19(01), 4–9. https://doi.org/10.33221/jikes.v19i01.399

Besar, B., Kesehatan, T., Dan, L., & Penyakit, P. (2018). Volume Xi - Nomor 02. Xi(21).

IRAWAN, H. (2015) ‘Analisis Penderita Malaria Rawat Inap Di Rsk Lindimara Kabupaten Sumba Timur’, Katalog.Ukdw.Ac.Id. Available at: https://katalog.ukdw.ac.id/2805/.

Lewinsca, M. Y., Raharjo, M., & Nurjazuli, N. (2021). Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Malaria Di Indonesia : Review Literatur 2016-2020. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 11(1), 16–28. https://doi.org/10.47718/jkl.v11i1.1339

Prabhakara, G. (2010). Health Statistics (Health Information System). In Short Textbook of Preventive and Social Medicine. https://doi.org/10.5005/jp/books/11257_5

 


 


Senin, 13 Mei 2019

Dampak negatif gadget terhadap kesehatan


Dampak negatif gadget terhadap kesehatan

Teknologi   diciptakan   untuk   mempermudah   setiap kegiatan   manusia. Gadget adalah salah satu contoh teknologi popular saat ini. Gadget adalah perangkat elektronik kecil  yang  memiliki  fungsi  khusus.  Berbagai  macam gadget dapat ditemui pada zaman sekarang ini salah satu contohnya  adalah  Smartphone.  Smartphone  bisa disebut  dengan   telepon  pintar adalah perkembangan dari telepon genggam sebelumnya yang  hanya  memiliki  beberapa  fungsi  saja  seperti SMS atau telepon.

Salah satu perubahan  yang terlihat di lingkungan masyarakat modern ini adalah penggunaan gadget yang mengakibatkan terjadinya pergeseran perilaku. Pada saat gadget belum menjadi tren seperti sekarang ini, masih banyak ditemui anak-anak yang bermain bersama teman-temannya dengan dimana kerjasama dan keakraban masih terlihat jelas ketika anak-anak bermain dengan temannya. Saat ini, permainan yang dimainkan sudah beralih dengan games yang ada pada gadget.

Gadget  memang ada positifnya bagi anak, menjadi media pembelajaran yang menarik, belajar bahasa Inggris lebih mudah, meningkatkan logika lewat game interaktif yang edukatif. Mereka bisa belajar aneka pelajaran, mencari journal, pelajaran, ilmu pengetahuan, mengetahui ada PR (Pekerjaan Rumah), mengirim tugas, jadwal kuliah, semua bisa lewat gadget. Namun dibalik itu semua tentu ada dampak negatifnya bagi anak. Dampak negatif tersebut harus dicegah. Agar anak sebagai generasi bangsa tidak dirusak oleh produk teknologi.

Berikut beberapa dampak negatif gadget bagi kesehatan:

1.      Kecanduan
Sebagai kelekatan yang kompleks, progresif, berbahaya, dan sering juga melumpuhkan, seperti zat psikoaktif (alkohol, heroin, zat adiktif lainnya) atau perilaku (seks, judi, kerja) yang dengannya individu secara kompulsif mencari  perubahan perasaan. Kecanduan juga akan terjadi pada pengguna gadget.
·         Pikiran pecandu internet (gadget) terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain.
·         Adanya kecendrungan penggunaan waktu berinternet (gadget) yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
·         Kejadian yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet (gadget)
·         Adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung/marah, ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet (gadget)

2.      Agresif
Masalah kemampuan emosi, yang akan turut memicu perilaku kekerasan. Maraknya perilaku kekerasan dan merusak (vandalisme) trennya meningkat, yang hampir disemua daerah bisa kita temukan kasusnya. Salah satu pemicunya adalah kemajuan teknologi, seperti penggunaan gadget untuk konten kekerasan, maraknya media sosial dan akibat pemakaiannya tanpa pengawasan atau pendampingan. Bahwa tayangan sadisme maupun kejahatan berpengaruh buruk terhadap pribadi anak.
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi prilaku . Tanpa sadar, sedikit demi sedikit perilaku berubah, mulai dari tantrum (suka berteriak-teriak), malas bergaul, kekerasan ringan hingga menjadi kebiasaan akibat konten kekerasan yang mereka saksikan. Jika terus berlangsung dalam jangka panjang ini bisa menjadi karakter buruk. Jika dalam hal fisik-motorik muncul perilaku pasif akibat pemakaian gadget, sebaliknya perilaku agresif yang dipicu emosi sosial justru menunjukkan gejala agresif bahkan kekerasan. 

3.      Obesitas
Semakin panjang durasi interaksi manusia dengan perangkat elektronik, maka semakin parah gangguan yang dialaminya. Padahal, diketahui bahwa obesitas meningkatkan resiko stroke dan penyakit jantung sehingga menurunkan angka harapan hidup. Beberapa penelitian menunjukkan, terlalu sering berinteraksi dengan perangkat elektronik memicu otak melepaskan dopamin. Zat ini dilepaskan ketika Anda melihat sesuatu yang menarik dan penghargaan. Anak akan cenderung pasif atau malas, malas bergerak, malas bermain, malas berolahraga, malas keluar rumah (bermain di luar) dan bentuk-bentuk pasif lainnya.
Hal ini akan menjadikan anak pemalas dan berpotensi obesitas. Perilaku semacam ini juga menggantikan aktivitas penting lainnya, terutama aktivitas bergerak yang penting untuk kesehatan, maupun aktivitas sosial.

4.      Merusak mata
Penggunaan gadget secara berlebihan dapat memperberat kerja otot mata dalam mengatur fokus, dan menimbulkan ketegangan mata. Hal ini dapat mempercepat timbulnya kelainan miopi (mata minus) pada anak-anak. Ada baiknya sering memeriksakan kesehatan mata anak.

5.      Tulang Belakang 
Kekhawatiran baru munculnya gejala sakit punggung dan leher pada usia yang semakin muda yang meluas. Sakit punggung dan leher merupakan dampak negatif peningkatan penggunaan gadget dan perubahan gaya hidup. Maka setiap penggunaan 2 jam gadget, harus diimbangi dengan 30 menit olahraga. Tubuh perlu bergerak, walau hanya dengan jalan kaki atau bersepeda.

6.      Kerusakan Otak
Jika pemakaian gadget adalah untuk pornografi, maka pengaruh negatif terhadap kemampuan otak akan sangat kuat yang diberi istilah “merusak otak”. Pornografi sesungguhnya merupakan penyakit, karena mengubah struktur dan fungsi otak, atau dengan kata lain “merusak otak. Terjadi perubahan fisiologis otak, ketika seseorang memasukkan gambar-gambar pornografi lewat mata ke otaknya. Kerusakan yang dihasilkan sangat dahsyat. Bila kecanduan narkoba mampu merusak tiga bagian otak, maka penggunaan materi pornografi yang kecanduan mampu merusak lima bagian otak.

7.      Insomnia
Setiap satu orang minimal mempunyai  lebih dari dua aplikasi  media sosial di berbagai gadget yang dimiliki, mereka mengaku dapat menghabiskan waktu berjam-jam dan seringkali menggunakan fasilitas media sosial hingga larut malam. Kebiasaan menggunakan media sosial dapat memicu berbagai masalah, salah satunya masalah pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur yang memiliki berbagai dampak antara lain keterlambatan untuk bangun pagi.

8.      Menghabat perkembangan Motorik halus Psikolog
Orangtua sebaiknya tidak membiarkan anak bermain gadget sebelum usia dua tahun, karena bisa menghambat stimulus fisik atau motorik. Pemakaian gadget yang cukup dengan sentuhan juga bisa membuat motorik halus tidak bekerja dengan baik. Tidak bisa mencengkram, menggenggam dan tidak bisa memegang alat-alat tulis dengan baik, akhirnya mewarnai, menulis tidak menarik, bahkan anak menjadi malas menulis.

Gadget  bukan lagi merupakan  produk yang langka dan mahal. Hadirnya gadget dengan harga yang relatif murah memungkin semua orang untuk memilikinya. Hampir semua aplikasi dalam gadget menggunakan akses internet sehingga memudahkan kita melakukan banyak hal. Seperti berkomunikasi, mencari informasi, melakukan transaksi, dan hiburan. Meskipun gadget hadir dengan banyak kemudahan di dalamnya, namun kewaspadaan akan bahaya gadget harus tetap kita lakukan. Tindakan  prepentif yang telah dikemukakan dalam pembahasan semoga dapat meminimalisir pengaruh negatif gadget.












DAFTAR PUSTAKA

Febrino, M, A. 2017. Tindakan Preventif Pengaruh Negatif Gadget Terhadap Anak. Noura, Vol. 1 No. 1, Juni 2017

Trifiana, R. 2015. Pengaruh kematangan emosi terhadap perilaku prososial remaja pengguna gadget di smp n 2 yogyakarta. E-Journal Bimbingan dan Konseling Edisi 10 Tahun ke-4 2015

Purwanto, E.,  Atina, V., Desylawati, E, S. 2017. Sistem Pakar Deteksi Dini Gangguan Mata dan Syaraf Akibat Penggunaan Smartphone. Jurnal informatika upgris Vol. 3, No. 2, (2017)

Syamsoedin, W, K, P., Bidjuni, H., Wowiling, F. 2015. Hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia pada remaja di sma negeri 9 manado. E-journal keperawatan (e-Kp) Volume 3. Nomor 1. Februari 2015

Mamatha, S, L., Hanakeri, P, A., Aminabhavi, V, A. 2016. Impact of gadgets on emotional maturity, reasoning ability of college students. International Journal of Applied Research 2016; 2(3): 749-755

Nath, A., Mukherjee, S. 2015. Impact of Mobile Phone/Smartphone: A pilot study on positive and negative effects. International Journal of Advance Research in Computer Scienceand Management Studies. Volume 3, Issue 5, May 2015 pg. 294-302