TUGAS SIK KELOMPOK 12
ALMA DWIYANTI (C1AA18012)
M. RIVALDI FADIL NURHAKIM (C1AA18064)
NOVIA GIRLVERA MUKTI (C1AA18082)
NURHAYATI (C1AA18084)
PENDAHULUAN
Malaria
merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium.
Penyakit ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka kematian bayi,
balita dan ibu hamil. Kasus malaria banyak ditemukan di negara-negara tropis
dan sub tropis, termasuk Indonesia. Terdapat empat jenis Plasmodium di Indonesia yaitu Plasmodium
falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale (Soedarto,
2011) dalam (IRAWAN, 2015)
Menurut data WHO
(2010) kasus malaria di dunia sebanyak 219 juta kasus dan 665.000 kematian. Di
Indonesia sendiri kasus malaria mengalami penurunan tiap tahunnya dari 417.817
kasus pada tahun 2012 menjadi 343.527 kasus pada tahun 2013 (Ditjen PP & PL
Depkes RI, 2014). Sebagian besar kasus berada di Indonesia bagian Timur seperti
Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku. Insiden
Malaria di Indonesia tahun 2013 adalah
1,9 persen menurun dibanding tahun 2007 (2,9%). Prevalensi pada tahun
2013 sebesar 6,0 persen. Lima provinsi dengan insiden dan prevalensi tertinggi
adalah Papua (9,8% dan 28,6%), Nusa Tenggara Timur (6,8% dan 23,3%), Papua Barat
(6,7% dan 19,4%), Sulawesi Tengah (5,1% dan 12,5%), dan Maluku (3,8% dan
10,7%). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kejadian
malaria pada anak <15 tahun (5,9%) relatif lebih rendah jika dibanding orang
dewasa sebesar 6,6%
(35-44). Kasus lebih
banyak ditemukan pada laki-laki
(6,2%) dibanding perempuan (5,8%). Prevalensi berdasarkan pekerjaan, orang
dengan pekerjaan sebagai petani, nelayan, dan buruh beresiko tinggi terhadap
penularan malaria (7,8%).
Pengobatan
malaria harus dilakukan secara efektif dari segi pemberian jenis obat harus
benar dan waktu minum yang tepat sesuai dengan program pengendalian malaria.
ACT (Artemisin Combination Therapy)
merupakan obat yang paling efektif dalam pengobatan malaria jika di berikan
pada 24 jam pertama pasien panas dan dikonsumsi selama 3 hari. Presentasi
pengobatan efektif di Indonesia adalah 45,5% yang
sebagian besar berada di Indonesia bagian Barat. Penggunaan ACT yang tidak adekuat di Indonesia bagian
Timur menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka kejadian malaria
(BALITBANGKES, 2013). Dalam (IRAWAN, 2015)
Data Badan
Pusat Statistik (2012) Provinsi Nusa Tengara Timur mendapatkan kejadian malaria
positif sebesar 112.903 kasus yang terjadi
di 21 kabupaten dan 1 kota. Terdapat 4 Kabupaten yang memiliki angka kejadian tertinggi diantaranya adalah Alor
(11.370 kasus), Belu (11.646 kasus), Sikka (11,272 kasus) dan Lembata (22.083
kasus). Kasus malaria di Kabupaten Sumba Timur
pada tahun 2012 sebesar 6.266 kasus dari jumlah penduduk
sebesar 238.240 jiwa.(IRAWAN, 2015)
Pengendalian Penyakit Malaria
Menurut
World Health Organization (2020) Malaria masih menjadi masalah kesehatan,
diperkirakan dua pertiga kematian terjadi pada anakanak di bawah usia lima
tahun. Pada tahun 2019 data yang dikumpulkan sebanyak 229 juta kasus malaria di
seluruh dunia dengan perkiraan jumlah kematian akibat malaria mencapai 409.000
jiwa.
Malaria merupakan
penyakit menular yang disebabkan Plasmodium yang terdiri dari banyak spesies,
namun yang pada umumnya menyebabkan malaria adalah Plasmodium vivax, Plasmodium
falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Penyakit malaria
ditularkan oleh nyamuk Anopheles yang di dalam tubuhnya mengandung Plasmodium.
Penyebaran dan endemisitas Malaria sangat dipengaruhi oleh keberadaan tempat perindukan
nyamuk Anopheles sebagai vektor penular. (Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019)
Saat ini program malaria
dihadapkan pada tantangan perubahan epidemiologi. Peningkatan proporsi malaria
yang diimpor dan kelompok berisiko tinggi tidak lagi anak-anak dan ibu hamil tetapi lebih terkait dengan risiko faktor
demografis dan pekerjaan khusus dalam lingkup lokal. (Herdiana,dkk 2016)
Malaria umumnya ditemukan
di tempat-tempat terpencil atau sulit dijangkau tepatnya di negara dengan
ekonomi rendah dan berkembang. Malaria menjadi salah satu indikator Agenda 2030
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals
(SDGs) untuk mengeleminasi epidemi malaria pada tahun 2030. (Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016.)
Indonesia juga termasuk
daerah berkembang dengan iklim tropis dan sub tropis yaitu sebagai habitat yang
disukai nyamuk Anopheles sp. vektor penyebab penyakit malaria. Penyakit ini
dapat menginfeksi semua kelompok umur. Meningkatnya angka kejadian malaria
dipengaruhi oleh faktor perubahan iklim terkait lingkungan fisik kimiawi, biologis dan social serta
perilaku masyarakat. (Sucipto,
2015)
Permasalahan malaria yang
terus berkembang di Indonesia terkait dengan masih lemahnya upaya penurunan
angka kejadian malaria seperti keberadan breeding place (tempat berkembang
biak) nyamuk anopheles yang menyebar dan lokasi yang sulit untuk di jangkau,
kondisi lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan (ventilasi, atap
plafon, dinding rumah yang belum memadai), perilaku masyarakat melakukan
aktivitas keluar rumah pada malam hari dan menjelang subuh (menyadap karet). ( Darmawangsyah,dkk 2019)
Tabel
Angka
Kesakitan Malaria (Annual Paracite Incidence/Api)
Per
1.000 Penduduk Tahun 2010-2019
|
No |
Tahun |
API |
|
1.
|
2010 |
1,96 |
|
2.
|
2011 |
1,75 |
|
3.
|
2012 |
1,69 |
|
4.
|
2013 |
1,38 |
|
5.
|
2014 |
0,99 |
|
6.
|
2015 |
0,85 |
|
7.
|
2016 |
0,88 |
|
8.
|
2017 |
0,99 |
|
9.
|
2018 |
0,84 |
|
10. |
2019 |
0,93 |
Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020
Grafik
Angka
Kesakitan Malaria (Annual Paracite Incidence/Api)
Per 1.000
Penduduk Tahun 2010-2019

Pada gambar di atas dapat
diketahui bahwa API malaria pada tahun 2010 sebesar
1,96 per 1.000
penduduk menurun hingga angka terendah pada tahun 2018 sebesar 0,84 per 1.000
penduduk. Capaian eliminasi tingkat kabupaten atau kota pada tahun 2019 adalah
sebanyak 300 kabupaten atau kota sedangkan untuk eliminasi tingkat provinsi
belum ada yang mencapai, meskipun terdapat 3 provinsi yang seluruh kabupaten
atau kotanya telah mencapai eliminasi.
Daftar Pustaka
Alim,
A., Adam, A., & Dimi, B. (2020). Prevalensi Malaria Berdasarkan
Karakteristik Sosio Demografi. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 19(01),
4–9. https://doi.org/10.33221/jikes.v19i01.399
Besar, B., Kesehatan, T., Dan, L., & Penyakit, P. (2018). Volume Xi - Nomor 02. Xi(21).
IRAWAN, H. (2015) ‘Analisis Penderita Malaria Rawat Inap Di Rsk Lindimara Kabupaten Sumba Timur’, Katalog.Ukdw.Ac.Id. Available at: https://katalog.ukdw.ac.id/2805/.
Lewinsca, M. Y., Raharjo, M., & Nurjazuli, N. (2021).
Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Malaria Di Indonesia : Review
Literatur 2016-2020. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 11(1), 16–28.
https://doi.org/10.47718/jkl.v11i1.1339
Prabhakara, G. (2010). Health Statistics (Health Information
System). In Short Textbook of Preventive and Social Medicine.
https://doi.org/10.5005/jp/books/11257_5